nah ini nih yang dy jelasin dari twitternya..:D:D:D...ayo ayo ayo coba kita simak..:D
- Kemarin gue sempet ngetwit ttg standup comedy, lalu setup dan punchline. Kalo yg belum baca, ada yg copy-in di:http://tiny.cc/6hnz8
- Kalau kemarin lebih ke teknis, gue hari ini mo ngobrolin sesuatu yg lebih filosofis: sebenarnya, apa sih yang membuat kita tertawa?
- Di bbrp bagian di buku The World as Will and Representation, Schopenhauer, seorang filsuf Jerman, mencoba jawab pertanyaan tersebut..
- Menurut Schopenhauer, tertawa adalah sebuah respons yang datang dari sesuatu yang dibilang sebagai “the ludicrous”..
- The ludicrous adalah ketidaksinambungan yg kita dpt di antara “representasi konseptual kita atas realitas” dan “realitas” itu sendiri.
- Kita punya representasi konseptual atas apa pun yg kita alami. Misalnya sewaktu lagi naik bus..
- Pas naik bus, ada konseptualisasi di kepala kita tentang bus itu seperti apa dan apa yg berhubungan dengan konsep2 di dalam bus..
- Gak mungkin kita mikir akan ada penari telanjang di dalam bus, karena itu tidak masuk ke dalam representasi konseptual kita atas bus..
- Nah, the ludicrous adalah ketika realitas punya konflik scr langsung dengan keseluruhan representasi konseptual yg ada di kepala kita.
- Dan semakin kuat dan tidak terduga konflik konseptual ini, semakin heboh tawa si pembaca. Bingung? Kasih contoh ya..
- Contoh paling gampang: Briptu Norman. Kita ketawa ihat Briptu Norman joget2 india. Kenapa? Mari coba kita jelaskan menurut Schopenhauer.
- Karena konseptalisasi di kepala kita tentang polisi, adalah mereka adalah yg galak. Maka, ketika ada polisi yg joget2 India..
- .kita tertawa karena melihat ekspresinya yg lucu, dan kita tertawa dengan terbenturnya konsep bahwa ada polisi (brimob pula) joget India.
- Kita bedah lg, ada dua kondisi: yaitu pas liat Norman sebelum joget (sebut saja pre-Caya) dan pas ngeliat Norman joget2 (post-Caya).
- Di sini, semakin orang percaya dan nyaman dalam mengonsepkan pre-Caya, semakin tidak terduga dia bahwa akan ada post-Caya.
- Maka, semakin tidak menduga seseorang akan terjadinya post-Caya, semakin besar pula tertawanya.
- Contoh lainnya yang lebih lazim, misalnya tebak2kan: Tanya: Telur telur apa yg paling keras? Jawab: telurnya Malin Kundang.
- Joke tadi (bisa aja) lucu, krn kita duga jawabannya tebak2an berhubungan dgn telur beneran, sesuai dgn konsep ttg telur di kepala kita.
- Tapi, dgn jawaban tadi, hal itu membentur konsep kita akan telur, yg dimaksud "telur" yg lain, bawa2 Malin Kundang pula!
- Menurut Schopenhauer, ada dua kondisi agar org ketawa: pemahaman atas suatu hal, dan pemahaman baru atas hal td dgn informasi tambahan.
- Maka, orang yg ga paham bahwa konsep polisi itu tegas ga ketawa dgn Briptu Norman, krn di tidak tahu bahwa itu secara konsep berbenturan.
- Org yg ga tau siapa itu Malin Kundang, ga ketawa dgn tebak2an tadi. Karena dia tidak nangkep pergeseran konsepnya.
- Makanya, kalo gak ketawa thd suatu jokes, jgn buru2 bilang gak lucu atau jayus, siapa tau lo gak ngerti konsep2 yg dia berikan. :p
- Kalo mau disambungin sama twit gue kemaren, skema setup- punchline berkaitan erat dgn penjelasan Schopenhauer kenapa orang ketawa.
- Punchline itu alat untuk perbenturan konseptual ini. Dan semakin kuat punchline-nya, semakin bergeser konsepnya, humornya semakin lucu.
- "Membenturkan konsep" bagi komedian panggung butuh timing, attitude, build-up dan lain2. Tujuannya agar benturannya kuat dan org ketawa.
- Kira2 segitu aja deh, penjelasan filosofisnya. Nampaknya di reply gue banyak yg bilang pusing. -___-
nah ini dia nih info2 menarik dari sang pegarang buku Kambing Jantan....meskipun terkesan cukup berat dan agak pusing tapii tetep sanggat menginspirasikan kita kan??heheee....thx 4 sharingnya ya Raditya Dika ++>> @radityadika..:D:D:D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar